Minggu, 27 November 2011

Mewaspadai Lisan

Lisan, bentuknya memang relatif kecil bila dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun ternyata memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Celaka dan bahagia ternyata tak lepas dari bagaimana manusia memanajemen lidahnya. Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan..
Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka ahsan (mendingan) diam. Inilah realisasi dari sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam ( HR Muslim )
di samping itu kita pun harus paham betul manakah lahan-medan kejelekan sehingga lidah kita tidak keliru memijaknya. Kita harus tahu apakah sebuah hal termasuk dalam bagian dosa bagi lidah kita atau tidak? Bila kita telah tahu , tentunya kita bersegera untuk meninggalkannya.
Diantara medan-medan dosa bagi lidah kita antara lain..
  • Ghibah
    Ghibah bila didefinisikan maka seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam
    "Engkau menyebutkan tentang saudaramu, dengan apa-apa yang dia benci" terus bagaimana jika yang kita bicarakan tersebut memang benar-benar ada pada saudara kita? "Jika memang ada padanya apa yang engkau katakan maka engkau telah meng-ghibahinya, dan bila tidak ada padanya maka engkau telah berdusta" (HR. Muslim)
    Di dalam Al quran , Allah ta'ala menggambarkan orang yang meng-ghibahi saudaranya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya:
    "Janganlah kalian saling memata-matai dan jangan mengghibahi antara satu dengan yang lain, sukakah kalian memakan daging saudaranya tentu kalian akan benci" ( Al Hujurat 12)
Tentu sangat menjijikkan makan daging bangkai , semakin menjijkkan lagi apabila yang dimakan adalah daging bangkai manusia , apalagi saudara kita sendiri. Demikianlah ghibah, ia pun sangat menjijkkan sehingga sudah sepantasnya untuk dijauhi dan dan ditinggalkan.
Lebih ngeri bila berbicara tentang ghibah, apabila kita mengetahui balasan yang akan diterima pelakunya. Seperti dikisahkan oleh Rasulullah sholallohu alaihi wasalam di malam mi'rajnya. Beliau menyaksikan suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa mereka lah orang-orang yang ghibah melanggar kehormatan orang lain.
  • Namimah
    Kalau diartikan ia bermakna memindahkan perkataan dari satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya. Ringkasnya "adu domba". Sehingga Allah mengkisahkan tentang mereka dalam Al-Qur'an. Mereka yang berjalan dengan namimah , menghasut, dan mengumpat. Di sekitar kita orang yang punya profesi sebagai tukang namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering di kenal sebagai provokator-kejelekan. Namimah bukan hal yang kecil , bahkan para ulama mengkatagorikannya di dalam dosa besar . Ancaman Rasulullah bagi tukang namimah

    " tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba (HR Bukhari)
    akibat ghibah ini sangat besar sekali, dengannya terkoyak persahabatan saudara karib dan melepaskan ikatan yang telah dikokohkan oleh Allah. Ia pun mengakibatkan kerusakan di muka bumi serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
  • Dusta
    Dusta adalah menyelisihi kenyataan atau realita. Dusta bukanlah akhlaq orang yang beriman, bahkan ia melekat pada kepribadian orang munafiq
    "Tiga ciri orang munafik, apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat (HR Bukhari dan Muslim)
    padahal orang munafik balasannya sangat mengerikan "di bawah kerak api neraka" Dusta pun mengantarkan pelakunya kepada kejelekan "Sungguh kedustaan menunjukkan kepada kejelekan dan kejelekan mengantarkan kepada neraka.

Hadits-hadits tentang kasih Sayang Rasulullah

Abdullah bin Abu Bakar r.a. meriwayatkan dari seseorang katanya: “Pada suatu hari dalam perjalanan untuk berperang di Hunain, saya memakai sepatu kulit yang tebal. Saya berjalan dibelakang Rasulullah s.a.w. Karena jalan sangat sempit tiba-tiba kaki Rasulullah s.a.w. tersandung oleh sepatu saya dan terinjak dari belakang sehingga beliau kesakitan dan beliau segera memukul perlahan saja sambil mendorong saya kebelakang dengan sebuah pecut (cambuk) yang beliau pegang sambil bersabda: “Hai Fulan, engkau telah menyakiti kakiku.” Beliau (Abdullah bin Abu Bakar r.a) mengatakan: “sepanjang malam orang itu tidak bisa tidur karena dia merasa bersalah sudah menyakiti kaki Rasulullah s.a.w, dia berulang-kali berpikir dan menyesali diri sendiri, mengapa saya telah menyakiti Rasulullah s.a.w. Keesokan harinya pagi-pagi sekali seorang datang mencarinya untuk berjumpa Rasulullah s.a.w. Katanya, “saya dengan perasaan gemetar dan takut datang menghadap Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda kepada saya” “Hai Fulan! Kemarin engkau telah menginjak kakiku dan engkau telah menyakiti aku. Tapi sebaliknya aku telah memukul sambil mendorong engkau kebelakang dengan cambukku ini supaya kakiku terlepas dari kaki engkau. Aku pukul engkau perlahan sambil mendorong engkau kebelakang dengan cambukku ini, tentu aku telah menyakiti engkau. Oleh karena itu ambillah dari aku 80 (delapan puluh) ekor domba sebagai balasan rasa sakit engkau karena cambukku ini.
Tengoklah bagaimana Rasulullah s.a.w Rahmatul-lil-Alamin telah berlaku terhadap seorang hamba yang lemah itu. Beliau s.a.w sendiri merasakan sakit karena terinjak oleh sepatu sahabat itu, dan untuk melepaskan kaki beliau dari bawah sepatu sahabat yang telah menginjak itu beliau mendorongnya kebelakang dengan cambuk yang beliau pegang. Sepanjang malam beliau s.a.w berpikir mengapa aku telah memukul dan mendorong orang itu kebelakang dengan cambukku ini. Tentu ia merasa sakit oleh cambukku ini, sedangkan beliau sendiri tidak memikirkan kesakitan yang disebabkan terinjak oleh kaki sahabat itu. Bahkan beliau karena merasa malu terhadap sahabat itu dan menyesal atas perlakuan beliau terhadapnya,sepanjang malam beliau s.a.w tidak bisa tidur. Akhirnya dengan rahmat dan kasih sayangnya, beliau s.a.w memberikan 80 ekor domba sebagai ganjaran atas perlakuan beliau s.a.w terhadap sahabat itu.

Kemudian dalam sebuah peristiwa lain lagi, lihatlah bagaimana perlakuan beliau s.a.w terhadap seseorang yang datang dari sebuah kampung yang tidak tahu adab sama sekali, bahkan nampaknya orang itu tidak mau belajar bagaimana berlaku adab terhadap seseorang. Bahkan orang itu sangat bangga atas kebiasaan perlakuan kasarnya. Namun beliau s.a.w telah memperlakukannya dengan ramah-tamah dan lemah lembut terhadapnya. Anas r.a. meriwayatkan, katanya, saya sedang menyertai Rasulullah s.a.w. diwaktu itu Rasulullah s.a.w menutup leher beliau dengan sehelai kain cadar yang pinggirannya tebal sekali. Ketika orang kampung itu datang langsung menarik kain cadar itu dengan kuatnya sehingga meninggalkan bekas goresan pada leher Rasulullah s.a.w. Lalu orang itu berkata: “Hai Muhammad harta apapun yang ada yang telah Allah taala anugerahkan kepada engkau letakanlah diatas kedua untaku ini. Karena engkau tidak akan memberi kepadaku dari harta engkau sendiri ataupun dari harta orang tua engkau. Mendengar kata-katanya itu mula-mula Rasulullah s.a.w diam saja tidak menjawabnya. Kemudian beliau s.a.w bersabda :

"Harta itu memang kepunyaan Allah taala Aku hanyalah seorang hamba-Nya. Setelah itu beliau bersabda: “ Engkau telah menyakiti aku. Engkau harus memberi pembalasan sebagai ganjaran kepadaku.”Orang kampung itu menjawab: “Tidak, aku tidak akan memberi apa-apa “Beliau bersabda: “Mengapa tidak? Mengapa kamu tidak mau memberi?” Dia menjawab: Aku tahu engkau tidak akan membalas keburukan dengan keburukan”. Mendengar jawabannya itu Nabi s.a.w tersenyum, dan beliau s.a.w faham maksud perkataan orang itu. Lalu beliau menyuruh sahabat beliau untuk meletakkan buah-buah kurma dan gandum (bahan makanan) diatas punggung kedua unta orang kampung itu.

Sebenarnya orang kampung itu bukanlah orang dungu. Dia tahu betul bagaimana kepribadian Rasulullah s.a.w yang dari ujung rambut sampai ujung kaki beliau merupakan wujud rahmat, beliau pema’af, belas kasih dan penyayang bagi makhluk Tuhan. Dia yakin apapun yang akan dia minta pasti akan dikabulkan oleh Rasulullah s.a.w.

Makna Shalat Berjamaah

Di dalam hadits dikatakan bahwa pahala shalat berjamaah adalah 27 kali dibandingkan dengan shalat sendiri. banyak orang Islam berhitung secara kuantitatif seolah-olah dengan melakukan shalat berjamaah maka ia akan menabung pahala sebanyak 27 kali. demikian juga ketika di dalam hadis dikatakan bahwa shalat di MAsjidil Haram akan dilipatgandakan pahalanya sebanyak seratus ribu kali lipat. Luar biasa.


Saya pribadi memahami masalah ini dari sisi kepemimpinan dan persatuan Islam. shalat berjamaah berarti berkelopok dengan panduan seorang imam. Apa yang dilakukan imam akan diikuti oleh makmumnya, kecuali imam salah. Semua makmum harus berbaris dengan shaf yang teratur dan lurus. Semua mengikuti arah Imam, betapa kuatnya oraganisasi ini. Siapa yang dapat mematahkan shaf yang kokoh? Sayang makna dari keuntungan shalat berjamaah luput dimengerti oleh umat islam!

Cara Mengalahkan Dorongan nafsu dan Dosa

Manusia baru dapat terhindar dari penyakit dosa dan kejahatan-kejahatan tatkala ia meyakini bahwa dosa dan kejahatan itu lebih berbahaya dan lebih memudhoratkan dari seorang pencuri, ular atau binatang buas lainnya dsb. Dan tatkala keperkasaan, keagungan serta wibawa Allah setiap saat menjadi pertimbangannya.

Dalam keseharian kita, terlihat nyata bahwa manusia dapat meninggalkan keinginan, kemauan, dan kehendak-kehendak hatinya. Misalnya seorang yang sakit diabetes, dokter benar-benar melarangnya dari memakan makanan yang manis. Maka orang itu, demi nyawanya, menyentuh makanan-makanan manis pun dia tidak mau. Jadi demikian pula halnya keinginan rohani dan dorongan nafsu. Jika keagungan dan keperkasaan Allah ta'ala telah tertanam di dalam kalbunya dengan benar, maka sikap tidak mentaati Allah akan dia rasakan lebih buruk dari memakan api dan lebih buruk dari maut.

Sekian banyak manusia mengetahui kekuasaan dan wibawa Allah ta'ala, dan sekian banyak dia meyakini bahwa mengingkari-Nya merupakan suatu hukuman yang berat, maka sebanyak itu pulalah akan menjauhi dosa, kemungkaran dan menjauhi sikap melawan hukum. Lihat sebagian orang mengalami "kematian" sebelum maut datang. Apa yang dialami oleh para akhyaar, abdaal, dan quthub, apa yang terdapat pada diri mereka? Jawabannya adalah keyakinan itu tadi. Pengetahuan yang penuh yakin serta qath'i, secara pasti dan secara fitra memaksa seseorang untuk suatu hal tertentu. Persangkaan mengenai Allah ta'ala tidaklah dapat mencukupi. Keraguan tidak tidak dapt memberi manfaat. Pengaruh telah ditanamkan hanya di dalam keyakinan. Pengetahuan yang penuh keyakinan mengenai sifat-sifat Allah ta'ala, justru lebih banyak memberikan pengaruh dibandingkan pengaruh yang ditimbulkan oleh halilintar yang sangat menakutkan. Akibat pengaruh itulah orang-orang menundukkan kepala dan membungkuk.

Jadi seberapa banyak keyakinan yang dimiliki seseorang, sebanyak itu pulalah dia akan menghindari dosa.

Falsafah Shalat Lima Waktu

Apa sebenarnya makna dari shalat lima waktu? Shalat lima waktu sebenarnya merupakan gambaran dari berbagai kondisi kita yang berbeda-beda sepanjang hari. Kita melewati lima tahapan kondisi pada saat sedang mengalami musibah dan fitrat alamiah kita menuntut bahwa kita harus melewatinya. Pertama, adalah ketika kita mendapat gambaran bahwa kita akan menghadapi musibah. Sebagai contoh, bayangkan ada surat panggilan bagi kita untuk menghadap ke suatu pengadilan. Kondisi pertama ini akan langsung meruyak rasa ketenangan dan keteduhan kita. Kondisi seperti menerima surat panggilan pengadilan ini mirip dengan saat ketika matahari mulai menggelincir. Sejalan dengan kondisi keruhanian tersebut ditetapkanlah shalat Dhuhur yaitu ketika matahari mulai menggelincir.

Kita mengalami kondisi kedua ketika kita sepertinya mendekat kepada tempat musibah terjadi. Sebagai contoh, setelah ditahan berdasar surat panggilan, tiba waktunya kita diajukan ke hadapan hakim. Pada saat demikian kita merasakan kegalauan perasaan dan beranggapan bahwa semua rasa keamanan telah meninggalkan diri kita. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan ketika sinar matahari mulai suram dan manusia bisa melihat matahari secara langsung serta menyadari bahwa sebentar lagi matahari itu akan terbenam. Sejalan dengan kondisi keruhanian seperti itu maka ditetapkanlah shalat Ashar.

Kondisi ketiga adalah keadaan ketika kita merasa kehilangan segala harapan memperoleh keselamatan dari musibah. Sebagai contoh, setelah mencatat bukti-bukti tuntutan yang akan membawa kehancuran diri kita, kita didakwa dengan bentuk pelanggaran dimana telah disiapkan surat dakwaan. Pada saat demikian, kita merasa sepertinya kehilangan semua indera dan mulai berfikir menganggap diri sebagai narapidana. Kondisi seperti itu mirip dengan saat ketika matahari terbenam dan harapan melihat terang hari sudah pupus karenanya. Diperintahkanlah shalat Maghrib yang sejalan dengan kondisi keruhanian demikian.

Kondisi keempat adalah ketika kita ditimpa musibah secara langsung dimana kegelapannya yang kelam telah menyelimuti diri kita. Sebagai contoh, setelah pembacaan bukti-bukti maka kita sepertinya lalu divonis dan diserahkan untuk dipenjarakan. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan malam ketika semuanya diselimuti kegelapan yang kelam. Untuk kondisi keruhanian seperti itu ditetapkanlah shalat Isya.

Setelah menghabiskan satu kurun waktu dalam kegelapan dan penderitaan, datanglah rahmat Ilahi yang meluap mengemuka dan menyelamatkan kita dari kegelapan dengan datangnya fajar yang menggantikan kegelapan malam dimana sinar pagi mulai muncul. Shalat Subuh ditetapkan untuk kondisi keruhanian seperti itu.

Berdasarkan kelima kondisi yang berubah terus tersebut maka Allah s.w.t. telah mengatur shalat lima waktu bagi kita. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa shalat tersebut diatur waktunya bagi kemaslahatan kalbu kita sendiri. Bila kita menginginkan keselamatan dari segala musibah, janganlah kita sampai mengabaikan shalat lima waktu karena semua itu merupakan refleksi dari kondisi internal dan keruhanian kita. Shalat merupakan obat penawar bagi segala musibah yang mungkin mengancam. Kita tidak pernah mengetahui keadaan bagaimana yang dibawa oleh hari berikutnya. Karena itu sebelum awal hari, mohonlah kepada Tuhan kita yang Maha Abadi agar hari tersebut menjadi sumber kemaslahatan dan keberkatan bagi kita.

Banyak Cara Menyebarkan Pesan Islam (Bus Untuk Perdamaian)

mengesampingkan ajaran Damai Islam yang justru sebagai inti dari Islam. Tetapi harus diakui juga bahwa pesan-pesan damai Islam itu belum secara massif tersebarkan kepada khalayak dunia. Suatu pekerjaan besar dan ekstra keras dari semua masyarakat muslim.

Salah satu upaya ternyata sudah dirintis oleh kelompok Islam di Inggris khususnya dengan menyebarkan pesan Damai Islam melalui bus kota. Seperti terbaca di situs http://www.thisisleicestershire.co.uk :


"Sebuah Kelompok Muslim akan meluncurkan "Bus Perdamaian" di kota minggu ini. 
Jamaah Muslim Ahmadiyah telah  membayar untuk iklan di bus di kota-kota besar di Seluruh Inggris untuk mengkonter stigma negatif yang ditimbulkan oleh Islam ekstermis. 
Di Leicesteershire, antara 8 sampai 10 bus penumpang Arriva akan membawa Slogan, "Love for All Hatred For none" dan ""Muslims for loyalty, freedom, equality, respect and peace".
Dan tertulis juga di situs http://denagis.wordpress.com bahwa Promosi pesan damai tersebut merupakan bagian dari kampanye nasional yang diluncurkan Jamaah Ahmadiyah dalam rangka untuk menegaskan kembali tentang prinsip-prinsip Islam yang damai. Setidaknya Sekitar 100 bus di London membawa pesan damai tersebut.

Selain itu Jamaah Muslim Inggris juga akan mengambil bagian dalam kampanye nasional dengan cara membagi-bagikan selebaran yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip Islam sejati.

Selebaran tersebut menegaskan kepada masyarakat sebuah moto “Love for All Hatred for None.” dan menjelaskan mengenai kunci keyakinan di balik agama. Ini termasuk hak-hak yang sama untuk semua dan melindungi kekeramatan hidup.

Selebaran itu berbunyi: “Islam menekankan kesucian hidup dan tegas menolak kekerasan dan terorisme dalam bentuk apapun (termasuk pemboman bunuh diri) demi untuk alasan apapun.“

Kampanye ini direncakan akan berlangsung hingga enam bulan, dengan menjadikan wilayah perkotaan sebagai sasaran pertama. Ditahap awal kampanye ini, Komunitas Ahmadi mentargetkan pesannya sampai kepada 10% dari populasi penduduk kota, dan dapat mengunjungi setidaknya tiga juta rumah tangga.

Shahid Malik, anggota parlemen untuk wilayah Dewsbury dan Mirfield mengatakan, kampanye ini telah “mempromosikan pemahaman dan eksplorasi yang lebih luas tentang Islam pada masyarakat Inggris.“

Kampanye ini datang pada saat Islamofobia nampak semakin meningkat.

Info lebih lanjut tentang program ini bisa dilihat di situs www.loveforallhatredfornone.org

Hakikat Kenabian dan Ciri cirinya

Engkau harus mengetahui bahwa tingkat tertinggi manusia adalah “orang-orang yang diberi pemahaman” (mufahhamun), dan mereka adalah orang yang dapat menggabungkan dua kekuatan – kemalaikatan dan kebinatangan – yang ia miliki, dan sisi kemalaikatannya lebih mendominasi. Mereka diutus untuk menciptakan tatanan yang dikehendaki oleh seruan langit (da’iyah haqqaniyyah), dan ilmu Ilahi, serta berbagai keadaan Dewan malaikat tertinggi yang memancar kepada mereka. Ciri-ciri “orang yang diberikan pemahaman” di antaranya adalah: ia memiliki watak yang seimbang dan watak yang harmonis dan bahwa wataknya itu tidak digerakkan secara berlebihan oleh pendapat-pendapat yang parsial (ara juz’iyyah), tidak oleh pemikiran yang berlebihan sehingga ia ditarik dengan cara apapun dari yang universal kepada yang parsial, atau dari ruh kepada bentuk. Di dalam dirinya juga tidak terdapat kebodohan berlebihan yang tidak dapat ditanggalkan untuk kemudian beranjak dari yang parsial menuju yang universal, dan dari bentuk kepada ruh. Ia adalah seorang yang sangat patuh menjalankan perbuatan-perbuatan yang mendapat petunjuk, memiliki tingkah laku yang baik di dalam perbuatan-perbuatan ibadah, dan adil  dalam memperlakukan manusia. Ia mencintai keteraturan alam semesta dan cenderung kepada kemaslahatan umum; tidak menyakiti seorangpun kecuali dalam suatu keadaan ketika kebaikan umum tergantung kepadanya atau ketika kemaslahatan umum memaksanya untuk menyakitinya. Ia tetap konsisten dalam kecenderungan kepada Yang Gaib. Pengaruh kecenderungannya ini dapat dilihat dalam perkataannya dan wajahnya, juga dalam semua wataknya, sehingga ia senantiasa mendapat pertolongan dari Yang Gaib. Perbuatan spiritual yang paling sedikit yang terbuka baginya adalah kedekatan kepada Allah dan ketenangan (sakinah) yang tidak tersingkapkan bagi orang lain.

Orang-orang “yang diberi pemahaman” (Mufahhamuun) ada beberapa macam dan kapasitas mereka berbeda-beda:

1.     1. Orang yang mencapai kapasitas paling tinggi dalam menerima ilmu-ilmu dari Allah untuk memperbaiki jiwa dengan jalan beribadah. Orang seperti ini adalah “orang yang sempurna” (kamil).
2.     2. Orang yang mencapai keadaan paling tinggi dalam menerima kebaikan-kebaikan yang diusahakan dan ilmu-ilmu tentang pengaturan urusan-urusan domestic dan sebagainya. Orang yang seperti ini adalah “orang yang bijaksana” (hakim).
3.      3. Orang yang biasanya memahami kebijakan-kebijakan yang komprehensif, kemudian berhasil menegakkan keadilan di antara manusia dan membela mereka dari kezaliman. Orang yang seperti ini disebut “Khalifah”.
4.      4. Orang yang telah mendapatkan kunjungan Dewan Malaikat Tertinggi, mendapatkan pengajaran mereka, berbicara dengan mereka, melihat penampakan mereka, dan orang yang mampu menjelmakan berbagai macam kemuliaan spiritual (karamat). Mereka ini dikenal sebagai “orang yang telah dibantu oleh ruh suci”.
5.      5. Orang yang lidah dan hatinya telah disinari, sehingga manusia disekitarnya mendapat keuntungan dari perkumpulan yang ia selenggarakan dan dari khutbah-khutbahnya. Ia juga mampu mentransfer ketenangan dan cahaya kepada murid-murid dan sahabat-sahabatnya, sehingga mereka mencapai, berkat perantaraannya, tingkat kesempurnaan yang tinggi, sementara ia sendiri tidak pernah berhenti memberikan petunjuk dan bimbingan kepada mereka. Orang seperti ini disebut “pemberi petunjuk yang murni” (hadi muzakki).
6.     6. Orang yang ilmunya terutama berisi pengetahuan mengenai peraturan-peraturan bagi masyarakat keagamaan serta berbagai keuntungan darinya, dan orang yang mendorong (mereka) untuk melakukan peraturan-peraturan itu. Orang seperti ini disebut “pemimpin” (imam).
7.      7. Orang yang diberi ilham untuk memberitahu manusia mengenai bencana yang telah ditentukan bagi mereka di dunia ini, atau orang yang mengetahui bahwa Allah telah mengutuk suatu umat dan memberitahu mereka mengenai hal ini, atau yang melepaskan diri dari jiwa rendahnya pada waktu-waktu tertentu, sehingga ia mampu mengetahui apa yang akan terjadi di dalam kubur dan pada hari kiamat, dan yang memberitahu mereka mengenai hal-hal ini. Orang pada tingkatan ini disebut “pemberi peringatan” (mundzir).
8.      8. Jika kebijaksanaan Ilahi mengharuskan bahwa orang “yang diberikan pemahaman” diutus kepada umat manusia, sehingga ia menjadi sebab bagi dikeluarkannya umat dari kegelapan ke dalam cahaya, maka Allah mengharuskan hamba-hambaNya untuk menerima orang ini, lahir dan batin. Dewan Malaikat Tertinggi akan merasa puas dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang mengikuti dan menyertai dia, dan mereka menyediakan kutukan bagi orang-orang yang menentang dan menolaknya. Allah telah memberitahu umat mengenai hal ini dan membuat mereka mematuhinya. Orang yang seperti itu adalah “seorang nabi”. Tingkatan nabi yang terbesar adalah yang risalahnya mempunyai dimensi tambahan yang sesuai dengan tujuan Allah swt. Untuknya, yaitu bahwa ia harus menjadi sebab untuk dikeluarkannya umat “dari kegelapan kepada cahaya” dan bahwa umatnya menjadi “umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia”, sehingga risalah yang ia sampaikan harus dilengkapi dengan risalah tambahan.

Syah Waliyullah al-Dihlawi, Argumen Puncak Allah, Judul aslinya Hujjah Allah al Balighah pada Bab 55 Hakikat Kenabian dan Ciri-Cirinya (Serambi: hal. 356-359).

Islam, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan Deklarasi Kairo

Agama Islam, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, dan Muslim kontemporer berada dalam kegelisahan, ketegangan dan konflik antara satu sama lain. Istilah Islam memunculkan banyak gambaran - beberapa nyata, beberapa hanya imajinasi saja. Islam tampaknya digambarkan seolah buta secara rohani, dan menyebarkan kebencian dan kekerasan. Hal tersebut tumbuh subur dalam imajinasi orang-orang yang menjelekkan Islam. Sedangkan pemahaman yang ideal ada pada orang-orang yang tulus meyakini bahwa Islam semata-mata adalah kedamaian dan keihklasan.  Tetapi ketika Islam menjadi sebuah frase yang disalahterapkan dan disalahgunakan oleh beberapa tindakan dan ideologi, pada kenyataannya, bukanlah Islam.
Jadi dimana Islam yang sejati dapat dicari? Dimana Islam moderat bisa ditemukan?
Jihad

Ada pertanyaan tentang jihad versus militansi. Kami, umat Islam moderat, percaya bahwa di dalam Islam, perang hanya sah untuk membela diri. Muslim diijinkan untuk mengangkat senjata hanya jika mereka menjadi korban agresi atau penindasan. Tapi Quran menetapkan prasyarat di mana perdamaian harus diwujudkan dan amnesti dapat diberikan.  Pada sisi yang menampakkan sikap keras dalam pembelaan diri di dalam Al Quran, selalu ada desakan untuk memaafkan dan melupakan dan ajakan untuk perdamaian dan rekonsiliasi.

Jihad memiliki beberapa konotasi. Salah satunya cenderung setuju dengan pandangan Bernard Lewis, Profesor Emeritus di Princeton University, bahwa mayoritas dari para ahli hukum Islam paling sering menafsirkan jihad sebagai perjuangan bersenjata untuk pertahanan atau memajukan kekuasaan politik Islam atau hegemoni [9]. Anggapan di balik interpretasi berbahaya tersebut adalah bahwa panggilan untuk jihad militan akan terus berlanjut, hanya diselingi oleh gencatan senjata sementara, sampai seluruh dunia mau menerima Islam atau tunduk kepada aturan Islam.

Ketika kita hadapkan dengan sejarah - dan memang harus kita hadapkan - tidak mungkin untuk menyangkal bahwa aliran tertentu dari pemikiran Islam abad pertengahan dan Islam yang  kontemporer ada yang bertentangan dengan nilai-nilai murni yang diajarkan oleh Quran. Ketika jihad digunakan sebagai alat untuk membenarkan militansi yang kejam, seorang Muslim moderat berpendapat bahwa panggilan jihad sesungguhnya adalah untuk melawan godaan setan dalam diri kita sendiri (nafs-ammarah) [1].

Universal Declaration of Human Rights (UDHR)

Kami, umat Islam moderat, percaya bahwa Quran menyebutkan tentang deklarasi universal yang pertama dan utama mengenai hak asasi manusia di dalam sejarah umat manusia.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menjadi tonggak menuju kebebasan, keadilan dan kesetaraan. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada bulan Desember 1948. Deklarasi ini berisi konsensus yang luas mengenai peradaban kontemporer tentang masalah Hak Asasi Manusia.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia mencakup tentang semua hak penting politik tradisional dan sipil, seperti persamaan di hadapan hukum, hak untuk mendapatkan pengadilan yang adil, hak untuk memiliki harta, kebebasan berpendapat dan berekspresi; dan kebebasan pikiran, hati nurani, dan agama. 

UDHR Pasal 18 menyatakan:

"Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk berganti  agama atau kepercayaan, dan kebebasan, baik secara sendiri atau dalam komunitas dengan orang lain dan di depan umum atau secara pribadi, untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam bentuk pengajaran, praktek , ibadah dan ketaatan. [3]

Nilai-nilai dan standar yang luas yang diatur oleh Islam secara jelas mendorong semangat dan tujuan dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, seperti yang dijelaskan dalam buku, Islam dan Hak Asasi Manusia, oleh Hadhrat Zafrullah Khan, Ketua Mahkamah Agung Internasional [4].

Islam menjunjung tinggi kebebasan hati nurani dan pemikiran dan hal itu mengajarkan untuk menghormati dan bertoleransi terhadap semua agama, karena Al Quran yang agung menyatakan bahwa "Tidak boleh tidak ada paksaan dalam beragama." [2:257] Artinya, harus benar-benar tidak ada paksaan atau kendala dalam hal kepercayaan ataupun ketidakpercayaan.

Meskipun demikian, pandangan Muslim pada umumnya adalah bahwa orang-orang yang murtad, yang sebelumnya memeluk agama Islam dan kemudian meninggalkannya, dianggap telah melakukan suatu kejahatan yang tidak termaafkan. Dan menurut mayoritas ahli hukum Islam beranggapan, orang yang murtad harus dihukum mati. Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, dalam bukunya Pembunuhan atas Nama Allah, dengan tegas berpendapat kemurtadan tidak dianggap sebagai kejahatan dalam Al Quran, dan bahwa tidak layak untuk mendapat hukuman. [2]

Pada tahun 1990, lebih dari lima puluh negara-negara Muslim memutuskan untuk menawarkan deklarasi paralel dari konsep Islam tentang hak asasi manusia - sebuah koreksi terhadap deklarasi hak asasi manusia. Dengan tujuan ini, negara-negara muslim, di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam, menyampaikan Deklarasi Kairo tentang Hak Asasi Manusia dalam Islam. Dan dengan demikian, dunia Muslim dapat mencapai sebuah konsensus politik tentang isu-isu tertentu dari hal-hal doktrinal. 

Dalam Deklarasi Kairo, hak-hak perempuan dan kebebasan beragama sangat diutamakan walaupun dalam berbagai keterbatasan. Meskipun Deklarasi Kairo melarang pemaksaan dalam Islam, namun tidak memberikan kebebasan penuh dalam beragama. The CDHRI Pasal 10 menyatakan:

Islam adalah agama yang sejati dan tidak pernah berubah. Adalah terlarang untuk melakukan setiap bentuk tekanan pada manusia atau untuk mengeksploitasi kemiskinan atau kebodohannya untuk memaksa dia untuk berganti agama dengan agama lain atau menjadi ateis. [6]

Pernyataan tersebut adalah satu-satunya pernyataan dari CDHRI tentang kebebasan beragama. Konsesi ini diberikan oleh CDHRI dan bertentangan dengan hak yang diberikan oleh Pasal 18 UDHR. Deklarasi Kairo menolak untuk memberi kita hak asasi manusia yang paling mendasar  - kebebasan hati nurani dan hak untuk mengubah agama atau kepercayaan. Deklarasi Kairo adalah menafikkan hak seorang muslim untuk meninggalkan Islam dan memeluk agama lain atau ateisme. CDHRI secara efektif melarang kemurtadan. Dan konsisten dengan pernyataan mereka, sangat sedikit negara-negara Muslim mengizinkan negeri mereka terbuka untuk kegiatan misionaris oleh non-Muslim. Tapi ini seharusnya tidak mengejutkan siapapun, karena kepercayaan bahwa orang murtad harus dihukum mati dan kebebasan nurani tidak dapat hidup berdampingan bersama-sama.

Menurut Dr Ann Mayer dari Wharton School of Business, Deklarasi Kairo yang mempertimbangkan hak-hak beragama, sipil dan politik dalam Deklarasi Universal adalah berlebihan dan menerapkan syariah Islam untuk membatasi dan menguranginya. Tidak perlu dikatakan lagi, adalah bahwa ahli hukum Islam lah yang mendefinisikan syariah Islam. [7]
 
Pada tahun 2002, PBB menerbitkan sebuah laporan "Arab, Laporan Perkembangan Sumber Daya Manusia”, yang mencatat bahwa kawasan Arab memiliki kebebasan yang paling sedikit dibandingkan dengan enam wilayah kunci lain di dunia, di negara yang mencakup kebebasan sipil, hak-hak politik, dan independensi media, dan agama kebebasan ". [8]

Dalam budaya intoleransi ini, korupsi dan despotisme menggerogoti pada tatanan sosial dunia Islam, dan menjelaskan kegagalan dalam menciptakan negara yang benar-benar Islami. Seorang Muslim moderat adalah orang yang terbuka dan tegas menolak budaya ini.
Arnold Toynbee, salah satu sejarawan yang paling terkemuka di zaman kita, ia menyebutkan dua kategori umum umat Islam kontemporer. Meminjam dari sejarah Yahudi sekitar masa Nabi Yesus, ia memberi tipe Muslim ini label sebagai berikut:

Menurut dia, tipe Herodes adalah yang modern, acuh tak acuh, nyaris tidak beragama, Islam yang meniru Barat, sedangkan orang Zelot adalah Muslim ortodoks puritan, yang mengacu ke masa lalu dalam hal yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak familiar.

Asmaul-Husna dalam Kitab Tarmidzi

Disebutkan dalam Tirmidzi, kitabud da'wat mengenai nama-nama Allah. Dinyatakan bahwa siapa yang telah melingkupi (memahami/ memperagakan) nama-nama itu dia telah masuk dalam surga. Yaitu, “Huwa Allah, al- ladziy laa ilaaha illaa Huwa Al-Rahmaan, Al- Rahiim, Al-Malik, Al-Qudduus, Assalaam, Al-Mukmin, Al-Muhaimin, Al-‘Aziiz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Khaliq, Al-Baari', Al- Mushowwir- Al-Ghoffar, Al-Qohhar, Al-Wahhaab, Ar-Rozzaaq, Al- Fattaah, Al-‘alim, Al-Qabidh, Al-Basith, Al-Hafizh, Ar-Rafi’, Al-Mu’ iz, Al-Muzil, Assami’, Al-Bashir, Al-Hakam, Al-‘Adl, Al-Latif, Al- Khabir, Al-Halim, Al- ‘Azhim, Al-Ghofuur, Asy Syakur, Al Aliyy, Al- Kabir, Al-Hafis, Al-Muqit, Al-Hasib, Al-Jalil, Al-Karim, Ar- Raqib, Al- Mujib, Al-Wasi’, Al-Hakim, Al-Waduud, Al-Majid, Al-Ba’is, Asy- Syaahid, Al-Haqq, Al-Wakil, Al-Qawi, Al-Matin, Al-Waliyy, Al-Hamid, Al-Muqsi, Al-Mubdi, Al-Mu’id, Al-Muhyi, Al-Mumit, Al-Hayyul- qayyum, Al-Wajid, Al-Majid, Al-Wahid, Al-Ahad, Al-Shamad, Al- Qadir, Al-Muqtadir, Al-Muqaddim, Al-Mu’akhkhir, Al-Awwal, Al- Akhir, Al-Zahir, Al-Bathin, Al-Wali, Al-Muta’ali, Al-Barr, At- Tawwaab, Al-Muntaqim, Al-‘Afuw, Al-Ra’uf, Al-Malikul-mulk, Dzul- Jalaali wal- ikram, Al-Muqsit, Al-Jami’, Al-Ghani, Al-Mughni, Al- Maani’, Ad- Dar, An-Nafi’, An-Nuur, Al-Haadi, Al-Baadi', Al-Baqi, Al-Warits, Al-Rasyid, Al-Shobuur.”

Inilah 99 nama yang diambil dari At- Tirmidzi, kitabudda’wat. Dari ini banyak nama-nama (sifat-sifat) yang seorang hamba sampai batas tertentu dapat melingkupinya tetapi ada pula [sifat-sifat] yang tidak bisa dilingkupi (ditiru), dan itu disebut sifat tanzihi (sifat khusus milik Allah Ta’ala). Sebagai contoh, misalnya Al-Awwal, manusia jelas tidak bisa menjadi awwal. Setiap orang mempunyai satu masa lampau, setiap yang bernyawa mempunyai masa lampau, dan setiap zat (benda) ada masa lalunya. Jadi, awwal hanya Zat Tuhan, yang dari itu semua sifat zahir (keluar/muncul). Demikian juga Al Akhir pun manusia tidak bisa, tetapi dari akhirin (orang- orang yang datang akhir) bisa, namun menjadi yang akhir tidak bisa, karena sesudahnya ke depan dunia terus berjalan. Dengan demikian sifat Tuhan sebagian kita bisa terapkan (ditiru) dalam zat kita, dan dengan cara adil dan tulus menirunya. Misalnya, Rabb (Pengayom) Allah adalah Rabb, kita jelas tidak bisa menjadi Rabb, akan tetapi dari Rabbubiyyat-Nya pasti kita mendapat bagian ( sampai batas tertentu dapat memperagakannya). Tuhan adalah Ar Rahmaan (Yang Maha Pemurah/Pengasih) maka kita semaksimal ( sampai batas tertentu) dapat berlaku kasih sayang kepada hamba- hamba Allah, namun dalam arti sepenuhnya kita tidak bisa melakukannya.

Jadi, dengan merenungkan sifat Tuhan Saudara-saudara akan mendapatkan topik bagaikan samudera yang tidak bertepi. Dan dalam bentuk melingkupinya, apa maksudnya? Sampai dimana Saudara-saudara dapat mengambil faedah dari lautan itu? Keterangan itu pun terdapat juga dalam kata-kata Rasulullah saw. Maka terjemah yang diterangkan dalam hadits Abu Hurairah bersabda:

”Isim Zat Allah, Allah mempunyai nama 99 . Allah, Dia jadikan sebagai yang melingkupi semua nama-nama itu”, yakni telah menerangkannya dan nama yang 99 itu adalah selain Allah. Seolah-olah berikut (beserta) Allah ada 100 nama. “Siapa yang memperhatikan itu dalam kehidupan dan berusaha menjadikan itu sebagai mazhabnya maka dia akan masuk di dalam surga.

Nama-nama tersebut Rasulullah saw. dengan cara ini menghitungnya: “Allah Swt yang tidak ada sembahan selain Dia, Dia Menganugerahi tanpa meminta, Maha Pengasih, Raja, Bersih dari semua aib/kekurangan-kekurangan. Bersih/suci, Menjaga dari semua bahaya, Yang Memberi keamanan, Yang Menjaga dari semua kehancuran, Menang, Yang Menutupi semua kerugian, Yang mempunyai kebesaran, Al- Ghalib (Yang menang)” -- mempunyai pemerintahan juga, namun kemenangannya merupakan kemenangan yang bersifat sementara, hari ini datang dan besok pergi, tidak ada hakekat apa-apa. Dia Yang Ghalib/Pemenang dan selalu menjadi pemenang itu hanyalah Allah. Orang-orang selalu juga berusaha menutupi kekurangan, namun tidak bisa menutupi semua kekurangan. Misalnya, ada seseorang yang matanya hilang, ada orang yang kaki tangannya hilang, maka manusia sampai batas mana bisa menutupi. Dengan berbagai cara secara sukarela dia akan berusaha memberikan ketenteraman padanya, namun dia tidak akan bisa menggantinya menutupi kekurangan itu. Jika Tuhan menghendaki maka secara sempurna Dia dapat menggantinya. Kadang-kadang Dia melakukan dan kadang-kadang tidak. melakukan. Namun Dia adalah Malik (Pemilik) itu terserah Dia, jika Dia menghendaki maka Dia bisa menggantinya.

Selanjutnya beliau saw. bersabda, ”Yang Memberikan keamanan, Yang Menjaga dari semua kerusakan, Yang mengganti semua kerugian, Yang Mempunyai kebesaran, Yang Menciptakan, Menjadikan dari yang tidak ada menjadi ada, Yang Memberi bentuk ( Al-Musawwir)” --

yakni Tuhan sebelum kejadian (kelahiran) segala sesuatu Dia telah meletakkan di otak-Nya “blue print”-nya ( rancangan-Nya), yakni apabila kita mengatakan “otak” Tuhan bukanlah maksudnya seperti otak kita, bahkan maksudnya adalah ada dalam “pengetahuan Tuhan” dan selama benda itu belum siap dalam “cetakan biru”-nya (rancangannya) untuk seterusnya tidak akan bisa jadi. Oleh karena itu Tuhan telah telah menggambar ( merancang) segala sesuatu. Dari segi ini Dia disebut Mushawwir.

Bersabda lagi, “Yang Menutupi (Menutupi semua aib), Mempunyai kemenangan Yang sempurna, Yang Menganugerahi tanpa menghitung-hitung, Yang Menganugerahi rezeki, Yang memudahkan kesulitan, Mengetahui segala sesuatu, Yang Mencegah, Yang Menciptakan kemudahan, Yang mengebawahkan (menjatuhkan), Yang Meninggikan, Yang Menganugerahi kehormatan, Yang Menghinakan, Yang Mendengarkan, Yang Melihat, Yang Memberikan keputusan, Yang adil, Yang Berpandangan luas, Yang Mengetahui, Maha Lembut, Yang mempunyai keagungan, Yang menutupi kelemahan, Yang Menghargai, Berkedudukan tinggi, Maha Agung, Menjaga semua, Yang Menghisab kitab, Yang Mempunyai kebesaran yang agung, Yang Maha Mulia, Yang Menjaga, Yang Mengabulkan, Yang menganugerahi keluasan, dan Yang Maha luas, Maha bijaksana, Yang sangat Mencintai, Yang Mempunyai kemuliaan, Yang Menganugerahi kehidupan yang kedua kali, Yang Melihat segala sesuatu, Yang selalu sempurna keahliannya, Yang Mencukupi, Yang Mempunyai kekuatan, Yang Mempunyai kekuasaan, Yang Menolong, Layak Dipuji, Yang Menghitung, Yang Menciptakan pertama kali, kemudian Yang Menciptakan untuk kedua kali, Yang Menganugerahi kehidupan, Yang Mematikan, Yang Hidup sendiri, Berdiri sendiri, Tidak bergantung pada siapapun, Yang Mempunyai kemuliaan, Esa, tidak ada sekutu, Yang butuh pada siapapun, Yang mempunyai kekuasaan, Yang mempunyai kekuasaan, Yang Mengedepankan, Yang Membelakangkan, Yang Pertama, Yang akhir, Zahir, Bathin ( tersembunyi), Yang Memiliki, Yang Berkuasa, Maha Tinggi, Yang Menghargai kebaikan, Yang Menerima taubah, Yang menuntut balas, Yang Memaafkan, Yang Memperlalukan dengan lemah lembut, Yang Mempunyai kerajaan, yang Mempunyai kekeramatan, Yang adil, Yang Mempersatukan, Yang Berdiri sendiri, Yang Menjadikan orang tidak membutuhkan kepada siapapun, Yang Mencegah, Yang Memiliki dada (Yang Berlapang dada), Yang memberi manfaat, Yang sepenuhnya Nur (Cahaya) Yang memberi Petunjuk, Yang menemukan sesuatu yang selalu baru, Yang kekal, Yang memang Memiliki, Pemimpin, Lambat dalam Memberikan hukuman”.

Nama-nama tersebut adalah dari At- Tirmidzi, kitabud- da’wat. 2
Terjemahannya kami sendiri yang menterjemahkan, namun yang asal adalah yang bahasa Arab yang telah saya terangkan. Dan Saudara-saudara dapat melihat, betapa hanya untuk membaca sifat- sifat ini saja sudah cukup banyak waktu yang sudah habis (tersita). Dan oleh sayapun terfikir juga bahwa note (catatan) yang saya siapkan untuk hari ini apakah dapat saya penuhi [ataukah tidak?], karena banyak penjelasan-penjelasan yang terpaksa kita terangkan secara beriringan, dan memang hendaknya dilakukan seperti itu, karena orang-orang umum tidak akan bisa mengerti selama belum diberi penjelasan.

Hikmah Puasa Ramadhan: Tinggalkan Keburukan, Perbanyak Kebaikan

 
Rasulullah saw bersabda: “Jika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu:. (Muttafaq ‘Alaih)

Puasa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang berlimpah pahala. Hal yang Allah taala sendiri menyatakan demikian. Tetapi disisi lain hal tersebut tidaklah mengherankan bagi kita, karena memang bisa dikatakan Puasa Ramadhan adalah Mi’rajnya ibadah-ibadah –ibadah yang paling mulia yang didalamnya menyatu seluruh ibadah. Segenap ibadah mencapai puncaknya dan menjelma di dalam bentuk puasa.

Jadi seorang yang berpuasa, yang menahan lapar haus, dan hawa nafsu  - maka lapar hausnya itu tidak akan berbobot atau malah tercemar jikalau dia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat lainnya. Lapar dan hausnya tidak juga akan bermutu jika ibadah puasanya tidak dihiasi dengan basahnya bibir dalam Zikir Ilahi, tidak dihiasi dengan ibadah-ibadah wajib dan ibadah sunnah. Begitu juga lapar dan hausnya itu tidak akan sempurna jika belum diikuti dengan amal saleh, khususnya sedekah.

Jadi tidak ada suatu indera manusia pun yang tidak terpengaruh oleh puasa. Setiap indera menjadi terkendali dibuatnya. Setiap keinginan manusia menjadi terikat oleh batasan, dan tidak merajalela. Semua itu karena puasa.

Maka dapat kita katakan babwa hakikat dari pintu-pintu neraka itu sebenarnya adalah pintu-pintu panca indera manusia. Apabila indera itu menjadi leluasa, dosa pun akan timbul. Maka melalui indera itulah manusia masuk ke dalam neraka. Jadi tertutupnya pintu-pintu neraka pada Bulan Ramadhan artinya adalah bahwa mukmin menutup bagi diri mereka seluruh pintu yang dapat membawa mereka ke neraka.

Membiasakan diri membaca dan mengkaji Alquran, membiasakan diri berzikir Ilahi, membiasakan diri berdoa, membiasakan diri memenuhi hak-hak sesame, membiasakan lidah sama sekali suci dari dusta, membiasakan diri untuk berkata benar dan bersih, membiasakan diri berkata lurus – semua kesempatan ini hanya dapat diperoleh melalui puasa.

Bukalah pintu Kebaikan dan Tutuplah Pintu-pintu Keburukan

Dari sabda Rasulullah saw diatas, bahwa di bulan Ramadhan ini seluruh pintu neraka ditutup , dan bersamaan dengan itu beliau juga bersabda bahwa seluruh pintu surga dibuka. Hikmah yang bisa kita ambil disini adalah janganlah hanya melihat dari sisi larangan saja, melainkan lihat juga sisi positifnya. Jika disatu sisi kita tidak membukakan pintu kebaikan bagi setiap indera dari kelima indera kita, kita memang mungkin tengah menutup pintu-pintu neraka, akan tetapi tanpa tujuan. ebab sebagai balasannya tidak satupun pintu kebaikan yang terbuka.

Jadi artinya adalah sebagai ganti dari setiap keburukan ciptakanlah kebaikan. Dan sebgai ganti dari suatu kondisi buruk , ciptakanlah suatu keindahan. Sehingga dengan melalui satu bulan penuh secara terus menerus dengan upaya gigih tersebut, maka keburukan-keburukan kita akan terlepas dan tertinggal ke belakang. Dan kebaikan-kebaikan kita semakin bertambah maju akibat berkah-berkah Ramadhan, melesat kedapan dengan cahaya yang luar biasa. Sehingga setiap Ramadhan datang kondisi kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inilah yang merupakan maksud dari puasa.

Melengkapi Puasa Ramadhan Dengan Dakwah

Umat Islam di dunia telah melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadhan selama dua minggu terakhir, bulan kesembilam dalam kalender Islam, ketika dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama Alquran

Sementara itu dalam jumlah kecil, Jamaah Muslim Ahmadiyah di Bermuda telah mengambil kesempatan untuk tidak hanya sekedar berpuasa melainkan juga berdakwah kepada masyarakat memperkenal kan lebih luas tentang iman mereka. mereka telah melakukan upaya dakwah melalui iklan-iklan di surat kabar, siaran radio dengan menyiarkan tilawah Alquran yang kemudian disusul dengan artinya dalam bahwa Inggris, dan dua program televisi.

"Karena Ramadhan, kita ingin orang-orang benar-benar memahami apa sebenarnya Puasa Ramadhan yang penuh berkah ini, jelas Shabhan Jhengoor, yang berasal dari Mauritius yang saat ini tinggal di Bermuda bersama suami dan dua anak yang masih kecil.

Jamaah Muslim Ahmadiyah telah menjadi lebih dikenal beberapa tahun terkhir, dengan upaya dakwah jihad damai mereka yang mungkin bagi sebagian orang, pandangan yang sangat berbeda dari Islam yaitu yang digambarkan oleh para Jihadis seperti yang terlihat di media.

"Makna Islam adalah untuk mencapai perdamaian dengan menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Allah,   jelas Jheengoor. " Islam mempromosikan ilmu pengetahuan dan mendorong untuk giat menuntut ilmu."

photo:  royalgazette.com

"Nabi Muhammad tidak pernah memaksa orang untuk menerima Islam. Apa yang orang-orang lakukan (pelaku kekerasan. Pent)  adalah bertentangan dengan ajaran Islam. Alquran mengajarkan kesatuan, itu mengajarkan perdamaian. kita harus hidup dalam damai dengan semua orang."

Ia menceritakan bahwa Nabi saw ketika diberi tugas untuk menyampaikan pesan khusus, tidak pernah berusaha untuk menindas orang lain, bahkan tidak juga melakukan upaya balas dendam atas banyaknya para pengikut beliau yang hilang akibat penganiayaan berat yang mereka alami pada beberapa tahun pertama keberadaan mereka.

Dalam mengikuti jejak Nabi Muhammad saw, Miss Jheengoor dan jamaah lainnya dari Ahmadiyah telah berusaha untuk berbagi iman dengan orang lain.

"Dalam Islam, kami yakin untuk berbagi dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat. hal terbaik yang saya miliki dalam hidup saya adalah iman saya, jelasnya.

Hal sentral dalam dakwah mereka adalah 2 program televisi, yang diciptakan oleh Muslim Television Ahmadiyya Internatioanl (MTA Internasioanl), saluran televisi internasioanl yang dijalankan oleh para pengikut Jamaah Ahmadiyah.Siaran ini berlangsung dalam berbagai bahasa, via satelit dan online di www.mta.tv

Siaran pertama ditayangkan di TV ZBM-9 rabu lalu dengan menyampaikan informasi tentang Ramadhan dan Kontribusi Islam untuk Sains dan Matematika, serta pengenalan tentang Kehidupan Nabi Muhammad saw. Siaran kedua akan mengudara di ZBM TV-9 Rabu mendatang, 17 Agustus di jam yang sama. Upaya ini juga diharapkan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih besar dari pemirsa terhadap apa itu Ramadhan, serta paruh kedua disiarkan Sejarah hidup Rasulullah saw.

Kata Ramadhan berasal dari kata Bahasa Arab untuk mengacu pada arti panas yang hebat, tanah yang hangus, dan sesah rangsum, sebuah konsep yang mudah diterjemahkan untuk makna fisik maupun spiritual.

Secara fisik, Muslim berpuasa dari matahari akan terbit sampai terbenam sepanjang bulan ramadhan. Tergantung pada saat apa Ramadhan jatuh, seperti waktu musim panas, ini bisa sangat menantang karena tidak ada sepotong atau setetes air dapat melalui bibir.

"Tujuannya adalah untuk membuat kita menyadari penderitaan orang lain" papar Jheengoor. "Aku tahu bahwa ketika matahari terbenam, aku akan punya makanan."

tapi puasa sendiri mengingatkan kita bahwa kita pergi tanpa apa dan semua telah disediakan oleh Allah.

Kesadaran ini mengingatkan saya" tambahnya, "dan membuat kita lebih manusiawi dan beramal saleh."

Secara rohani, "tujuan sebenarnya dari puasa adalah panas spiritual, yaitu keinginan membara untuk mengkhidmati Allah".

Manusia diciptakan, papar nya adalah untuk menyembah Allah.

"Menyembah Allah adalah untuk mencapai pemahaman tentang atribut-Nya, untuk meraih keridhoannya dan mencapati kedekatan kepada Allah."

Selain puasa, umat Islam juga didorong untuk berdoa lebih tekun dan membaca Alquran sebanyak yang mereka bisa. mempelajari arti dan tafsirnya dan kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari hari sepanjang tahun.

"Jika anda tidak memahami maksud Ramadhan dan mencoba untuk menerapkannya untuk kehidupan, anda tidak mendapatkan apa-apa dan sia-sia".

"Ramadhan sangat penting bagi pria dan wanita muslim," tegas nya. "Pria muslim harus berusaha untuk meningkatkan spiritual mereka selama bulan Ramadhan, tetapi bagi kita kaum perempuan, kita harus menyadari bahwa derajat rohani kita selama bulan Ramadhan ini tidak hanya menguntungkan diri sendiri melainkan juga untuk anak-anak kita."

Dia menekankan pentingnya wanita dalam Islam khususnya dalam pelatihan moral dan spiritual anak-anak mereka, terutama ketika mereka masih muda.

"Kita sebagai perempuan harus menyadari bahwa dengan meningkatkan derajat spiritual, kita tidak hanya menguntungkan diri kita, melainkan generasi-generasi masa depan kita akan diberkati juga, sebagai anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang telah mencapai keridhoaan Allah dan kedekatan dan memiliki moral dan spiritual yang tinggi.

demikian juga denngan imannya itu akan mendorong dan mendukung suaminya.

"Pada saat kesulitan dan kemalangan, kita mendukung suami kita meskipun hanya melalui doa-doa kita dan dengan menunjukkan ketabahan dan kedamaian hati. dan kedamaian hati hadir hanya ketika seorang wanita telah mencapai keridoan Allah. Orang itu kemudian memiliki Tuhan, dirinya sendiri, sebagai pelindung dirinya, bimbingan dan pertolongan. Maka meskipun dirudung masalah ia masih memiliki kedamaian pikiran dan hati, karenanya ini adalah hal efektik untuk mendukung suaminya."

Jamaah Ahmadiyah di Bermuda juga menawarkan Terjemah Alquran secara gratis dengan Terjemahan bahasa Inggris dan berlanggaan gratis Majalan Bulanan perbandingan agama mereka, Review of Religions. untuk informasi lebih lanjut dan untuk meminta salinanan,  email: e-mail-alislam.bermuda@gmail.com

Siaran Radio bisa di dengar senin sampai jumat pada 06:30 dan hari minggu 10:30 di FM 105, 1. dan tidak ada siaran hari sabtu.

Islam Menaggapi Terorisme

Islam berarti agama yang damai. Seseorang yang mengikuti Islam akan menemukan bahwa dirinya dilingkupi oleh ajaran luhur yang bertujuan untuk mendirikan perdamaian antara manusia dengan Allah, Pencipta segala makhluk; antara sesama manusia; dan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya. Bagaimana mungkin agama semacam ini dapat berurusan dengan isu-isu terorisme? Dan apakah arti kata terorisme? Beberapa kamus mendefinisikan teroris sebagai orang yang secara sistematis menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk mencapai tujuan-tujuan politik atau seseorang yang menguasai atau memaksa pihak lain untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan kekerasan, ketakutan atau ancaman.

Definisi-definisi tadi tercakup dalam Al-Quran dengan dua kata, yaitu fitnah dan ikrah. Di dalam Al-Quran, pada bagian yang pertama, Tuhan memulai membicarakan isu terorisme dengan mengajarkan kaum Muslim agar jangan pernah menjadi teroris. Dua dari ayat-ayat awal dari keseluruhan Al-Quran menyebutkan, “Fitnah itu lebih besar dari pembunuhan” (Qs. 2:218) atau di sisi Allah penganiayaan, atau membuat orang lain ketakutan secara terus-menerus dalam kehidupan mereka, ialah lebih besar keburukannya dibanding melakukan pembunuhan. Dan selanjutnya “Tidak ada paksaan dalam agama” (Qs. 2 : 257), yaitu, tidak ada satu pun yang memiliki hak untuk memaksa pihak lain untuk memenuhi tuntutan mereka atau memaksa pihak lain untuk mengikuti cara berpikir mereka.

Allah Yang Maha Kuasa memperingatkan orang-orang yang beriman berkali-kali agar mereka tidak menjauh dari-Nya yang merupakan Sumber segala kebaikan. Allah mengingatkan kita bahwa barangsiapa yang menjauh dari-Nya dan membuang segala kebaikan, dan membebaskan diri mereka sendiri dari tata susila dialah yang pada akhirnya mengambil jalan menteror pihak lain, memaksa mereka agar memenuhi tuntutan. Orang-orang yang beriman berulang-ulang diperingatkan bahwa mereka akan kehilangan kasih Allah dan rahmat-Nya bila mereka mulai berperilaku di jalan teror itu.

Mengamalkan Nilai-nilai Kema-nusiaan Yang Tinggi

Tetapi Islam tidak hanya melarang dengan keras kaum Muslim menjadi teroris. Islam juga memastikan bahwa kaum beriman diciptakan untuk mencapai akhlak yang tinggi, berperilaku adab yang baik, dengan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia yang bisa mengubah mereka menjadi orang-orang yang mencintai umat manusia dengan tulus tanpa membeda-bedakan perbedaan agama, ras maupun status sosial. Tidak ragu lagi bahwa Islam menganjurkan diskusi yang atas dasar rasional dan logika dengan orang dari semua agama dan kepercayaan dengan cara nyaman dan tidak memihak, yang bertujuan kebenaran unggul di atas kekeliruan dan kesalahan. Tetapi perlu diingat, bahwa salah sama sekali untuk membenci orang yang keliru dan salah. Orang yang sayangnya memegang prinsip yang salah jangan pernah dibenci. Itulah sebabnya motto Jemaat Ahmadiyah ialah “Love for all hatred for none” (cinta bagi semua tiada benci bagi siapapun).

Di dalam Islam tekanan kuat yang menakjubkan diletakkan dalam meningkatkan kecintaan kepada umat manusia dan pentingnya menunjukkan kasih dan simpati kepada setiap makhluk Allah, termasuk manusia dan hewan. Sebenarnya cinta dan simpati yang sejati ialah penangkal terorisme. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a., istri Nabi Muhammad s.a.w., bahwa beberapa orang Arab gurun datang kepada beliau s.a.w. dan bertanya: “Apakah anda mencium anak-anak anda?” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya” Mereka berkata: “Kami belum pernah mencium mereka.” Rasulullah s.a.w. bersabda:” Apa yang bisa saya lakukan jika hatimu telah kosong dari rasa kasih?” Beliau s.a.w. juga menyatakan bahwa Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya.

Standar rasa kasih ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w.. tidak bisa selain menakjubkan seseorang yang mengetahui betapa kasar dan keras masyarakat di mana beliau s.a.w. lahir. Abu Qatadah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. menceritakan kepadanya:

“Suatu kali saya berdiri untuk memimpin shalat, terbersit dalam pikiran saya untuk memperpanjang shalat. Lalu saya mendengar tangis bayi dan saya kemudian mempersingkat shalat khawatir jangan-jangan menyusahkan ibu bayi tersebut.”
Jauh dari menghasut kebencian dan perilaku agresif, Islam justru memerintahkan kebaikan dan simpati bagi semua. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

“Derma (sedekah) ialah suatu kewajiban bagi setiap bagian tubuh setiap hari di mana matahari biasa terbit. Mendamaikan orang yang bertengkar ialah suatu derma. Membantu orang yang menaiki binatang tunggangannya atau menaikkan barang muatan ke atasnya ialah suatu derma. Perkataan yang baik ialah suatu derma. Memindahkan sesuatu dari jalan yang menyebabkan gangguan ialah suatu derma.”

Beliau s.a.w.. tidak henti-hentinya mengingatkan kaum Muslim agar berperilaku baik kepada tetangga, sabdanya:

“Tidak akan masuk surga barangsiapa yang tetangganya tidak selamat dari keburukannya.” Beliau s.a.w.. juga menyatakan:

“Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga jika kalian tidak beriman, dan kalian tidak akan menjadi orang beriman yang sejati jika kalian tidak mencintai satu dengan yang lain. Maukah kuberitahukan sesuatu yang dengannya kalian akan mencintai satu dengan yang lain? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

Suatu kali beliau s.a.w. menemukan induk burung memukulkan sayapnya sendiri di atas tanah dengan gelisah. Lalu beliau s.a.w.. menanyai para sahabat: “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab: “Kami menangkap anak-anaknya dari sarangnya.” Rasulullah s.a.w.. bersabda: “Kembalikan anak-anak burung itu kepadanya. Tidak ada ibu yang pasti tersiksa disebabkan anaknya.” Suatu peristiwa salah seorang sahabatnya membakar sebuah sarang semut. Beliau s.a.w.. segera menyatakan agar segera memadamkan api tersebut dan bersabda: “Tidak ada yang memiliki hak untuk menyiksa sesuatu yang lain dengan api.”(Abu Dawud).

Mengedepankan Pentingnya Dialog; Piagam Madinah

Allah berfirman di dalam Al Quran surah Ali ‘Imran ayat 135 bahwa orang beriman yang sejati ialah: “…mereka yang menahan marah dan memaafkan manusia…”, demikian pula Nabi Karim Muhammad s.a.w.. bersabda: “Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam semua hal. Permudahlah dan jangan dipersulit mereka. Gembirakanlah orang-orang dan jangan membuat sedih mereka.”

Adalah jelas bahwa orang beriman yang sejati, dan segala orang jujur dan baik selalu menerima sasaran dari terorisme, tidak pernah melakukannya. Kapan saja kecenderungan seperti itu muncul di sebuah masyarakat sehingga rasa damai menjadi terganggu dan masyarakat hidup dalam ketakutan, kaum Muslim diperintahkan untuk menangkis mereka terlebih dahulu dengan mengadakan tukar pikiran dengan pihak yang bertanggung jawab dalam gangguan itu. Al-Qur’an menyatakan: “Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, dan hendaknya bertukar-pikiran dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya” (Qs. An-Nahl:126). Dan Al Qur’an secara berulang-ulang memberitahukan kita agar mencari perlindungan dari Allah dengan sabar dan doa. Tetapi bilamana bertukar pikiran dengan orang-orang seperti itu cenderung memburuk dan berdoa untuk mereka tidak berhasil membawa perubahan pada tindakan mereka, selanjutnya Allah berfirman lagi pada bagian akhir Surah An-Nahl , yaitu : “Dan jika kamu memutuskan akan menghukum orang-orang yang aniaya, maka hukumlah mereka setimpal dengan kesalahan yang dilakukan terhadap kamu” (Qs.16:127).

Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan kaum muslimin bahwa ketika segala sesuatu mulai tidak dapat dikendalikan, mereka seharusnya menyatukan kekuatan untuk menegakkan perdamaian dengan menggunakan kekuatan yang masuk akal. Kaum muslim telah diperintahkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.. agar bekerjasama jika perlu dengan pengikut dari agama lain untuk melakukan hal yang sama. Di dalam dokumen terkenal yang disebut Piagam Madinah Rasulullah s.a.w.. mendeklarasikan:

Pasal 1. Ini ialah perjanjian dari Muhammad, Utusan Allah di antara orang- orang yang beriman dan Muslim dari Suku Quraisy dan penduduk Yatsrib dan di antara orang-orang yang mengikuti mereka dan bergabung dengan mereka dalam bertempur (melawan musuh bersama).

Pasal 2. Dan mereka merupakan sebuah umat yang satu terpisah dari pihak lain.

Pasal 25. Dan juga kaum Yahudi dari suku ‘Auf merupakan umat yang satu dengan orang-orang yang beriman- sekalipun kaum Yahudi akan mengikuti agama mereka sendiri dan kaum Muslim akan mengikuti agama mereka sendiri- dan ini akan termasuk kedua pihak sekutu dan diri mereka sendiri.(Dikutip dari Reuben Levy dalam ‘Sociology of Islam, part 1, hal. 279-282).

Di dalam piagam ini, semua penduduk kota Yatsrib atau Madinah diseru untuk bergabung dalam melawan kekuatan yang meneror warga kota. Kaum Muslim dibuat berjanji bahwa mereka akan menolong mempertahankan dengan sebaik-baiknya pengikut agama lain dari ketidakadilan dan serangan kejam. Sebagai contoh, dalam sebuah piagam beliau s.a.w.. untuk sepanjang masa yang ditujukan kepada semua orang Kristen yang hidup sebagai warga di dalam kekuasaan kaum Muslim, Muhammad s.a.w.. menyatakan :

”Aku berjanji bahwa seorang rahib atau musafir yang mencari pertolongan baik dia di atas gunung-gunung, di hutan-hutan, gurun-gurun atau tempat tinggal atau di tempat peribadatan, aku pasti akan menolak musuh-musuhnya dengan segenap sahabat-sahabatku dan penolong-penolong, dengan semua kerabatku dan dengan semua orang yang menyatakan mengikutiku dan aku akan mempertahankan mereka, karena mereka berada dalam perjanjian denganku. Dan aku akan membela orang yang berada dalam perjanjian denganku dari penganiayaan, kerugian dan keadaan yang menghinakan dari musuh-musuh mereka sebagai ganti dari jizyah (semacam pajak) yang telah mereka janjikan untuk dibayarkan. Jika mereka lebih suka mempertahankan sendiri harta benda dan warga mereka, mereka akan diijinkan untuk melakukan hal itu dan tidak akan dibiarkan dalam kesusahan sebagai bentuk rasa tanggung jawab.


Tidak ada paderi atau pendeta yang akan dikeluarkan dari tempatnya, tidak ada biarawan yang akan dikeluarkan dari biaranya, dan tidak ada pendeta yang akan dikeluarkan dari tempat ibadahnya dan tidak ada peziarah yang akan ditawan dalam perjalanan ziarahnya. Tidak ada satupun gereja dan tempat ibadah mereka yang lain akan dirusak atau dimusnahkan atau dibongkar. Tidak ada satupun dari bahan-bahan bangunan gereja mereka, yang akan digunakan untuk membangun mesjid atau rumah-rumah untuk kaum Muslim, setiap Muslim yang melakukan hal itu akan dinilai sebagai orang fasik atau pembangkang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Biarawan dan rahib tidak akan dikenakan pajak atau ganti rugi baik mereka tinggal di hutan-hutan atau di atas sungai-sungai, di timur atau di barat, di utara atau di selatan. Aku akan menyampaikan pada mereka kata-kata penghormatanku. Mereka adalah orang yang berada dalam perjanjian denganku dan akan menikmati kebebasan dari segala macam gangguan. Setiap bantuan akan diberikan pada mereka dalam perbaikan gereja mereka. Mereka akan dibebaskan dari ketentaraan. Mereka harus dilindungi oleh kaum Muslim. Biarlah piagam ini tidak dilanggar hingga Hari Penghakiman.” (Dikutip dari Baladhari).

Salah Satu Fungsi Perang Menurut Ajaran Islam
Di dalam Islam, setiap usaha tidak hanya untuk melindungi kaum Muslim, tetapi juga para pengikut dari agama lain. Allah Ta’ala berfirman : “…Dan sekiranya Allah tidak menangkis sebagian orang dengan perantaraan sebagian yang lain, niscayalah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadat Yahudi serta mesjid-mesjid yang di dalamnya banyak disebut telah dibinasakan…” (QS 22 : 41)

Walau bagaimanapun, kaum Muslim telah diperingatkan oleh Pendiri Islam, Nabi Muhammad, Utusan Allah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika mereka memasuki wilayah orang-orang yang sedang meneror dan menganiaya mereka dengan kasar, mereka tidak boleh kehilangan akal sehat dan sikap adil, dan tergiur untuk memulai melakukan tindakan kejam, seperti yang dilakukan oleh para peneror atau teroris. Kejahatan terburuk dari rasa tidak berterima kasih akan dilakukan oleh orang-orang yang telah melupakan bahwa mereka telah baru saja menjadi sasaran dari kekejaman yang buruk, mulai membagikan hal yang sama, yang jika tidak lebih buruk, akan berlaku kejam kepada pihak lain. Nabi s.a.w.. memerintahkan : “Kalian akan bertemu dengan orang yang mengingat Allah di tempat ibadah mereka. Janganlah berselisih dengan mereka, dan memberi masalah kepada mereka. Di negeri musuh, janganlah membunuh wanita dan anak-anak, jangan pula membunuh orang yang buta dan orang tua. Janganlah menebang pohon, jangan pula meruntuhkan gedung-gedung” (Dikutip dari Halbiyyah, vol. 30

Jadi, jihad yang hanya diperbolehkan oleh Islam ialah perang orang yang teraniaya melawan orang yang menganiaya, berperang untuk melindungi perdamaian semua orang tanpa memandang agama atau kepercayaan mereka. Taktik-taktik semacam bom bunuh diri, dan lain sebagainya sebetulnya mutlak tidak ada dalam kamus orang beriman yang sejati. Allah Ta’ala berfirman : “…Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadapmu.” (Qs. 4: 0).

“…Dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu dengan tanganmu sendiri ke dalam kebinasaan,…” (Qs. 2:196).

Islam dengan keras melarang membunuh orang yang tidak berdosa, orang yang tidak menyerang : “…maka ingatlah bahwa tak boleh lagi ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.” (Qs. 2 194).
Tiga ayat ini cukup untuk mencegah kaum Muslim dari menabrakkan pesawat terbang ke arah gedung-gedung, atau mengirim pembom bunuh diri untuk meledakkan penduduk yang tidak berdosa.  
Sewaktu orang jahat menghentikan kejahatan dan telah dihukum setimpal untuk kejahatan mereka, kemudian Allah berfirman: “Dan, perangilah mereka sehingga tidak ada gangguan lagi, dan agama itu dianut hanya untuk Allah. Tetapi, jika mereka terhenti, maka ingatlah bahwa tak boleh lagi ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang aniaya.” (2 : 194).

Kesimpulan

Kesimpulannya, Islam menganjurkan tiga langkah melawan terorisme:
  1. Memberikan pendidikan moral yang istimewa kepada semua kaum Muslim, sehingga mereka menjadi orang yang luhur, adil, bermoral, baik dan penuh cinta yang dengannya menjamin bahwa mereka tidak akan pernah mengacaukan kedamaian orang lain.
  2. Di mana pun kedamaian dikacaukan, mengadakan tukar pikiran dan argumentasi dengan pelaku kejahatan, dan berdoa dengan tulus untuk mereka, untuk merubah jalan yang mereka tempuh.
  3. Jika semua jalan tukar pikiran gagal, kemudian menggabungkan kekuatan dengan semua orang baik untuk bertempur dengan para pengacau hingga perdamaian dipulihkan, tetapi dengan tetap menjaga ketentuan-ketentuan keadilan dalam pandangan.
Adalah merupakan kepercayaan kita bahwa bukan hanya Islam, bahkan tidak ada satupun agama, apapun namanya, dapat menyetujui kekerasan dan penumpahan darah orang yang tidak berdosa, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak dengan mengatasnamakan Allah. Para teroris dapat saja menggunakan label-label agama dan politik, tetapi tak ada satupun yang bisa ditipu oleh kelicikan dan tipu muslihat mereka. Mereka tidak melakukan apapun untuk agama. Mereka adalah musuh perdamaian. Mereka harus diperangi pada setiap level seperti yang dianjurkan oleh Islam, agama perdamaian.

Penterjemah : Dildaar Ahmad Dartono



* The Review of Religion, dicetak sejak 1902, merupakan salah satu majalah perbandingan agama terlama. Majalah ini ditujukan untuk mempromosikan debat intelektual dan hidup yang didasarkan pada penghormatan terhadap semua nabi dan agama. Majalah ini merupakan majalah internasional yang diterbitkan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah, yang didedikasikan untuk menyebarkan saling pengertian antar pemahaman.

"Muslims for Life" Cara Dakwah Islam Chicago

Hari ini adalah dimulainya kampanye "Muslims for Life" di Masjid Baet-ul-Jaamay di Glen Ellyn. kampanye ini adalah inisiatif nasional yang diprakarsai oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah untuk membawa pesan perdamaian dan kesucian dari semua kehidupan manusia.

Teroris telah melukiskan gambar yang tidak bernar tentang Muslim, kata Harris Zafar, juru bicara Jamaah Ahmadiyah cabang West Chicago. " Ketika kita mendekati peringatan 11 September yang ke 10 kami pikir hal terbaik untuk dilakukan... untuk mengenang mereka yang telah kehilangan nyawa adalah dengan mengumpulkan darah."

Jamaah Muslim Ahmadiyah telah pengumpulan darah melalui mobil donor darah ke 130 lokasi sumbangan di seluruh negara bagian dengan harapan akan terkumpul sebanyak 10.000 kantong darah - yang sama artinya menyelamatkan 30.000 nyawa.

Di Glen Ellyn, Masjid Baet-ul-Jaamay, 2S510 Route 53, akan mengadakan donor darah dan layanan doa antaragama pada 11 September untuk menghormati mereka yang telah kehilangan nyawa.

"Program ini didasari atas darah (untuk menyelamatkan kehidupan), tetapi tujuan yang lebih luas adalah untuk terlibat dalam dialog. jika anda tidak dapat memberikan darah, menghadiri layanan doa antaragama," kata Zafer.

Zafar mengatakan 11 September telah berdampak semua orang, termasuk komunitas Muslim.

Ini adalah kebangkitan untuk kita... ini memberi kita pengertian bahwa harus lebih vokal tentang iman dan keyakinan kita," kata Zafar.

Masood Qazi, Amir Jamaah Ahmadiyah cabang West Chicago mengatakan ekstrimis telah membajak agama, dan tujuan dari kampanye ini adalah menunjukkan wajah Islam sebenarnya, yang adalah untuk mempromosikan toleransi dan harmoni.

"Hidup itu suci dan kemanusiaan adalah yang tertinggi.. kita tidak bisa mentolerir (teroris melakukan tindakan-tindakan mereka) dalam nama agama kami," kata Qazi.

Selain donor darah dan pelayanan doa antar agama, Jamaah Ahmadiyah akan menerbangkan spanduk besar di udara dan "water Show" di Chocago akhir pekan ini dengan pesan "Give Blood, save lives."

Jamaah Ahmadiyah adalah sebuah gerakan dalam Islam yang berkembang pesat, didirikan pada tahun 1889. Jamaah Ahmadiyah Amerika Serikat didirikan pada tahun 1920 dan merupakan organisasi Muslim Amerika pertama, mernurut sebuah rilis yang dikirim dari Ahmadiyah.

Upaya Menghilangkan Kesalahpahaman Tentang Islam

Sebuah asosiasi pemuda yang berbasis di Toronto berharap untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam dan Alquran dengan mengadakan open house di Windsor minggu ini.

The Ahmadiyya Muslim Youth Associatioan Canada (AMYAC) telah berjumpa dengan orang kanada di berbagai daerah selama beberapa bulan terakhir untuk mempromosikan perdamaian, mengutuk terorisme dan meningkatkan kesadaran tentang Islam.

Open house akan diadakan di Forest Glade Community Centre pada hari Kamis.

Cara kita bereaksi terhadap pembakaran Alquran oleh pendeta Terry Jones adalah dengan menciptakan kesadaran global diantara masyarakat sehingga mereka bisa tahu bagaimana Islam sebenarnya," kata Rabani, anggota AMYAC.

"Dalam 8 bulan terakhir kita telah mencapai hampir satu juta orang dan saya yakin kami akan dapat menyebarkan pesan damai Islam kepada satu juta orang dengan mudah di bulan ini."

Islam Berarti Damai, tidak Ada Hubungannya dengan Teror

Peringatan peristiwa 11 September ke 10 sekarang hanya sekitar satu minggu lagi dan banyak organisasi mengadakan acara untuk mengingat nyawa-nyawa yang hilang dan mempromosikan perdamaian dan pemahaman. Satu kelompok lokal menghabiskan sabtu ini dengan mengadakan donor darah untuk menyelamatkan nyawa.

Komunitas Muslim mengambil waktu untuk menyebarkan perdamaian dan menghilangkan streotif yang salah tentang Islam. banyak umat Islam mengatakan kepada Berita 8 mereka secara pribadi disalahkan atas serangan teroris terburuk di Amerika Serikat. Untuk alasan inilah mereka membuat suatu misi untujk menyebarkan kebenaran.

Pada hari sabtu, Komunitas Muslim Ahmadiyah mengadakan sebuah acara donor darah. disana mereka memiliki kesempatan untuk menjelaskan arti Islam sebenarnya.

Mubarak Bashir mengatakan, stigma itu tidak benar, "kami hanya ingin orang tahu bahwa Islam secara harfiah berarti damai. Tidak ada hal seperti teroris Islam. jika seorang mengaku muslim tetapi mereka melakukan aksi teror, mereka adalah Islam secara nama tapi tidak dalam perbuatan."
Untuk mengkonter stereotif itu dan mengingat kehidupan yang melayang, Komunitas Muslim Rochester mengadakan donor darah. Bashir menjelaskan, "Cara terbaik adalah mengumpulkan 10.000 kantong darah dan akhirnaya menyelamatkan nyawa sebanyak 30.000?

Puluhan pendonor memberikan darah dan selebihnya mereka bisa mempelajari lebih banyak tentang Islam dan tata cara hidup Muslim.

robert Oliver, baru saja masuk Komunitas Islam beberapa bulan lalu. dia membuat misinya untuk menyebarkan kebenaran. oliver mengatkan, "sungguh disayangkan, saya pikir peristiwa 11 septermber telah menciptakan citra negatif Islam. dan ini adalah kesempatan bagi kita untuk menaruh citra positif dari pada hal-hal untuk perubahan.

Pusat bekarja sepanjang tahun mengadakan edukasi bagi orang-orang yang tidak mengetahui arti sebenarnya Islam. Ahmad menambahkan: "Kami mencoba untuk membawa gambar yang indah dari Islam. Islam berarti damai. dan tidak ada hubungannya dengan teror.

Donor darah ini merupakan bagian dari kampanye nasioanal. info lebih lanjut bisa dilihat di www.muslimsforlife.org

Tony Blair Baca Alquran Setiap hari

London: Mantan perdana menteri Inggris Tony Blair telah menjadi "semakin terbuka" tentang pentingnya agama, dan membaca Alquran setiap hari agar "melek iman".

Blair, yang dilaporkan pernah mengatakan dia tidak tertarik agama, masuk Katolik setelah meninggalkan Downing Street no 10 tahun 2007.

Mantan pemimpin partai buruh sekarang mengatakan membaca Kitab Suci Islam untuk memastikan ia tetap "melek iman", demikian laporan Daily Mail.

"Menjadi melek iman sangat penting dalam dunia global, saya yakin. Saya membaca Alquran setiap hari. sebagian untuk memahami bebrapa hal yang terjadi di dunia, tapi terutama hanya karena sangat instruktif." katanya.

Blair mengatakan pengetahuan iman itu penting untuk perannya sebagai duta dari Quartet PBB, AS, Uni Eropa dan Rusia.

Blair sebelumnya dilapirkan memuji iman Muslim sebagai "beautiful". Dia mengatakan Nabi Muhammad Kekuatan peradaban yang besar.

Mantan Perdana menteri mengatakan Alquran adalah sebuah "Buku Reformasi, inklusif. Alquran menjunjung tinngi ilmu dan pengetahuan dan membenci takhayul. "

Dakwah Islam Amerika Berlanjut (Muslims for Life)

Kampanye Nasional di Amerika Serikat "Muslims for Life" yang digagas oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah  guna menyambut peringatan peristiwa september 11 terus berlanjut. Setelah pengumpulan darah di Chicago, New York, Chicago, Seattle dan banyak kota-kota besar lainnya kini mereka melakukan usaha yang sama di Minnesota, US.

Kali ini mereka bekerjasama dengan pihak Kristen. "Komunitas Muslim Ahmadiyah Minnesota bekerjasama dengan pihak Kristen untuk penggalangan donor darah tanggal 11 September." Demikian kalimat yang dilansir oleh situs Kare11.com

Pihak Ahmadiyah akan bekerjasama dengan Gereja Metodist Mosaic dan Brooklyn United di Brooklyn park untuk acara tersebut. Idenya adalah tidak hanya berbuat hal baik terhadap sesama tetapi untuk membantu memberi pengertian kepada masyarakat bahwa tidak semua orang Islam mendukung serangan teror.

Dalam Situs resmi kampanye ini MuslimsForLife.org disebutkan update dari kampanye ini:

  • 130 titik donor darah telah diatur di berbagai kota - banyak terjalin kerjasama dengan organisasi lain dan di temapat mereka sendiri.
  • 90 lebih telah terdaftar di www.MuslimsForLife.org dan lainnya sedang ditambahkan.
  • Presiden obama telah diberitahu tentang "Muslims for Life" dan kami diberi kesempatan untuk menyebutkan rincian kepada pemimpin-peminpin muslim yang berkumpul di Gedung putuh pada kesempatan buka bersama.
  • 300.000 pamflet Muslim for life telah mulai didistribusikan di seluruh amerika.
  • 10.000 t-Shirt Muslims for life telah dibuat.
  • 16.000 surat sedang dikirim ke legislator terkemuka di seluruh amerika serikat dan sekitar 9.000 walikota untuk mengenalkan kampanye ini.
  • Upaya-upaya publikasi luas dari berbagai media, Radio, TV , internet dan media cetak.
Seperti yang disebutkan dalam situs resmi kampanye ini bahwa Muslims for life adalah sebuah kampanye nasional untuk mengenang korban 11 september yang ke 10 dan menyebarkan pesan bahwa Islam begitu menjunjung tinggi kesucian kehidupan. Mobil-mobil donor darah akan disebar ke seluruh masjid dan pusat-pusat ibadah di Amerika Serikat dan bekerjasama dengan berbagai organisasi. Tujuan dari kampanye ini adalah mengumpulkan 10.000 unit darah yang bisa membantu 30.000 jiwa.

Pertanyaan Tentang Siapa Tuhan

Pertanyaan ini telah muncul sejak manusia hidup di bumi ini dan itu masih sedang di dipikirkan sampai sekarang. Untuk beberapa ada jawaban sederhana, sedangkan yang lain tetap ambigu.

Pertanyaan tentang siapa Tuhan? akan dibahas pada konferensi Agama-Agama dunia ke 31 di Humanities Theatre di Universitas Waterloo hari ini. Acara satu hari ini merupakan acara bebas dan disponsori oleh Jamaah Ahmadiyah Kanada. Delapan pembicara dari berbagai perspektif iman akan menjawab pertanyaan dan karakteristik Tuhan. Agama-agama yang diwakili meliputi Aborigin, Ateis, Kristen, Hindu, Islam, Yudaisme dan Sikh.

Kordinator Konferensi Nabeel Rana mengatakan tema tahun ini darang dari Asosiasi Mahasiswa Muslim Ahmadiyah di kedua universitas lokal.

Meskipun tuhan dapat berbeda-beda, agama-agama utama dunia setuju hanya ada satu Tuhan.

Swami Shanker Bhagwan Hamilton mengatakan ada kesalah persepsi dalam masyarakat termasuk kalangan Hindu bahwa ada banyak Tuhan di agama Hindu, padahal hanya ada satu.

Dewa Hindu memiliki banyak karakteristik, yang tercermin dalam banyak pujaan. Ini adalah cara memberikan bentuk fisik untuk sesuatu yang tak terlukiskan, kata Shanker.

"Tuhan berada dalam segala hal," kata Pastor pendeta Hindu yang mengawasi jemaat di Hamilron dan Toronto.

Imam Muhammad Afzal Mirza dari Mississauga mengatakan mayoritas populasi dunia percaya pada keberadaan Tuhan.


Mirza mengatakan tidak cukup untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak ada hanya karena Tuhan tidak bisa dilihat, didengar atau disentuh.

Ada bukti ilmiah tentang banyak hal yang ada tetapi kita tidak dapat melihat dengan indera utama kita, katanya. sebuah contoh adalah bagaimana sebua ruangan yang tampaknya kosong dapat diisi dengan campuran gas.

Mirza mengatakan sebagian besar agama memiliki konsep Tuhan dan atribut-atributnya dalam inti ajaran mereka.Agama menyediakan deskripsi rinci dan jelas tentang keberadaan Tuhan dibandingkan dengan akal manusia, katanya.

Allan Gould, seorang penulis Toronto yang sering memberi kuliah pada topik Yahudi mengatakan Yahudi tidak terobsesi dengan teologi. Sebaliknya, Tuhan itu adalah diberikan, katanya.


Inti dari Yudaisme adalah apakah seseorang layak menerima kasih Tuhan dan bagaimana untuk mencapainya, kata Gould. Konsep amal Yahudi disebut sebagai tzedakah dalam bahasa Ibrani berarti kebenaran. Untuk menjadi benar di mata Tuhan berarti memberi kepada sesama, kata Gould.

"Ini adalah tentang apa yang anda lakukan dalam hidup anda yang penting," katanya.

Dari Perspektif Kristen, Pendeta Rick St Philip Pryce dari Gereja Lutheran di Kitchener, kata Tuhan adalah sesuatu yang lain yang datang ke bumi dalam Yesus.

Dia diwujukan keliyanan, hidup tanpa ekspektasi siapapun, bermain dengan bukan aturan siapapun dan pertanyaan-pertanyaan asumsi," katanya.

"Tuhan adalah kasih yang akan mengorbankan segalanya didasarkan pada cinta dan akhirnya cinta itu menang," kata nya.

Pryce mengatakan Tuhan juga datang kepada kita melalui yang lain. Keliyanan dapat dalam bentuk yang berbeda jenis kelamin, ras, kebangsaan, status ekonomi atau catatan kriminal. Kita melihat wajah Kristus dalam diri orang lain, katanya.

"Orang yang berbeda mengguncang kita dan tantangan prioritas kita," jelasnya.

Untuk spiritual Aborogin Gerard Sagassige hanya ada satu Tuhan.

"Tuhan bukan asimilasi," KAta penasehat budaya pada Penyembuhan Tujuh Generasi di Kitchener.

"Agama adalah asimilasi semangat bebas, bebas diri sendiri dan bebas meyakini." Kata Ojibwe dari Great Mississauga Nation.

"Tuhan saya tidak pendendam, Tuhan saya tidak diktator," kata Sagassige. "Tuhan saya tidak berbeda dari Tuhan anda."

Pembicara lain pada acara tersebut adalah Hari Nam Singh Khalsa dari sikh Toronto, Doug Thomas dari Elmira yang mewakili humanism dan Sister Thich nu Tinh Quang dari Budha di Hamilton.

Informasi lebih lanjut tentang konferensi bisa diakses melalui www.www.worldreligionsconference.org

Hukuman Bagi yang Murtad Dalam Islam

Salah satu yang menjadi perhatian orang terhadap Islam adalah bagaimana Islam menanggapi pemeluknya yang murtad (keluar dari Islam). Ada pemikiran keliru yang berkembang dan dihubungkan dengan Alquran, termasuk oleh sebagian orang Islam sendiri - yang mempunyai pemikiran bahwa Alquran mengatakan bahwa hukuman bagi yang murtad adalah orang semacam itu harus dipenggal. Hal mana ini juga yang dijadikan alasan bagi mereka, dari kalangan non muslim khususnya , mengatakan bahwa Islam adalah agama Teror. Kenyataannya sebenarnya justru kebalikan dari itu. Alquran dimanapun tidak pernah menyebutkan bahwa hukuman murtad adalah membunuh orang yang bersangkutan. Alquran menyatakan:


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian ingkar, kemudian beriman lagi, kemudian ingkar lagi, kemudian kian bertambah dalam kekufuran, sekali-kali Allah swt. tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula akan menunjukkan jalan lurus  kepada mereka. (Q.S. 4:137)
Orang bisa membayangkan bahwa jika hukuman murtad adalah dengan pembunuhan, maka apakah memungkinkan bagi seseorang yang murtad, kembali ke pangkuan Islam untuk kedua kalinya? Jika hukumannya adalah kematian  – seperti yang mereka katakan – maka tidak ada kemungkinan bagi seseorang kembali kepada Islam. Namun Alquran jelas menyatakan bahwa adalah sangat mungkin bahwa seorang Muslim yang meninggalkan agamanya untuk beberapa alasan bisa kembali pada keyakinannya jika ia menginginkannya. Pilihan dan opsi selalu ada disini. Tidak ada hukuman disebabkan kemurtadan maupun unsur paksaan untuk memaksa seseorang dengan cara apapun untuk menerima Islam dan kemudian tetap menjadi Islam sampai akhir hayat.

Menurut Islam, agama adalah perihal pilihan. Jika seseorang senang dengan kebenaran islam dan mereka puas, tentu saja mereka sangat dipersilahkan dan bergabung dengan Islam. Tetapi jika mereka memutuskan untuk tidak melakukannya, maka tidak ada paksaan dan bahkan jika setelah masuk Islam kemudian mereka ingin pergi, maka merekapun bisa pergi. Allah taala akan melihat hal ini dalam kehidupan yang akan datang tetapi tak seorangpun memiliki kewenangan untuk mengeluarkan hukuman bagi yang murtad.

Lima Keyakinan , Banyak Tuhan - Diskusi Damai

slam, Kristen, Sikh, Hindu, Suku Asli, Budha dan Atheis bertemua dalam satu ruangan.

Beradu kekuatan? bukan - tidak ada pukulan. Melainkan sebuah diskusi damai tentang Tuhan dan pendekatan yang berbeda terhadap Agama.

Sebagai pembicara dari masing-masing agama tampil untuk menjelaskan tentang ibadah-ibadah dalam iman masing-masing - dan bahasa - audiens yang mengkin sekitar 200 orang mendengarkan dengan tenang.
"Ketenangan adalah untuk dirinya sendiri" kata moderator, Pendeta Sheldon Clark. "Tidak ada ketegangan, hanya konvergensi semangat umum."

ini adalah tahun ke-lima konferensi agama-Agama Dunia yang diadakan di Hmilton, meskipun telah berkali-kali telah diadakan di Kanada. Waterloo menjadi tuan rumah konferensi ke 31 baru-baru ini. Acara tahun ini diadakan di Sekolah Menengah Ryan Uskup.

Sebuah organisasi Islam yang disebut Jamaah Ahmadiyah menyelenggarakan konferensi ini, dengan bantuan relawan lokal Nadeem Ahmed, seorang akuntan di Stoney Creek.

Presiden Ahmadiyah regional, Muhammad Amir Sheikh mengatakan ide konferensi ini adalah untuk memungkinkan dari masing-masing agama yang berbeda untuk berbicara secara terbuka tentang keyakinan mereka, dalam suasana yang beradab sehingga setiap orang yang menghadiri mungkin menemukan landasan bersama.

"Kami telah mempelajari, bahwa jika Anda melihat ajaran-ajaran dari masing-masing agama, 90-95 persen adalah ajaran moral. 5 persen adalah dogma. Dan orang terlalu fokus pada dogma-dogma".

Dia mengatakan kepada para audiens bahwa Ahmadiyah tegas menolak terorisme dalam bentuk apapun dan mendunkung pemisahan antara agama dan negara."

Konferensi ini berusaha untuk menjadi begitu terbuka. Masing-masing mereka bahkan peserta dari ateis sekalipun - "seluar humanis" Justin Trottier dari Toronto.

"Saya mewakili non-iman," kata Trottier pada audiens, dan menambahakan bahwa sistem keyakinannya adalah "Melampaui loyalitas paroki".

Seorang bernama Dan Paus memberikan konferensi mendadak tapi tidak berlangsung lama. Dia mendengarkan beberapa pembicara dan meninggalkan tempat setelah sekitar satu jam setengah. Dia merasa bahwa cara ini dirancang untuk mempromosikan Islam atau setidaknya mengaburkan perbedaan antara Islam dan Kristen. Itu bukan ide yang baik, katanya.

"Ada bahaya dalam menggabungkan dua hal, dan itu tidak akan bekerja jika anda percaya pada Tuhan dalam alkitab.

Kirenjit Jaura, Seorang Sikh yang tinggal di Cambridge, sedang menghadiri konferensi kedua. Dia mengatakan bahwa masyarakat harus memisahkan budaya dan agama, karena budaya dapat mengajarkan orang untuk membenci, dan menyebarkan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan. Tetapi agama-agama dunia memiliki kesamaan.

"Pesan universalnya adalah bahwa kita memiliki satu Pencipta. Kegiatan seperti ini memungkinkan kita untuk lebih tinggi dalam spiritualitas sebagai sebuah komunitas.

Jumat, 25 November 2011

Islam Dan Ilmu Pengtahuan

 



 Islam merupakan kesatuan ajaran yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia. Islam tidak hanya membahas apa yang wajib dikerjakan dan apa yang dilarang, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah cara berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dalam hal ini aspek mengetahui menjadi sangat penting sehingga antara Islam dan Ilmu Pengetahuan tidak dapat dipisahkan.
Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Islam memandang ilmu pengetahuan sbagai cara pandang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti.
Bagian pertama ketika seorang masuk agama Islam dari kesaksian iman Islam adalah ucapan, “Laa ilaha illallah” (Tak ada tuhan selain Allah), merupakan sebuah pernyataan pengetahuan tentang realitas. Kalimat ini adalah pernyataan yang secara popular dikenal dalam Islam sebagai prinsip utama/ prinsip tauhid atau keesaan tuhan.
Orang Islam memandang berbagai jenis ilmu pengetahuan seperti sains, ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora sebagai beragam bukti yang menunjukkan kebenaran bagi pernyataan yang paling fundamental dalam Islam ini.
Benturan dan ketidakcocokan antara Islam dan ilmu pengetahuan dipandang dari sisi manapun tidak akan pernah ada. Karena sesungguhnya kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan Keesaan Tuhan. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religious, karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan Keesaan Tuhan itu. Memiliki kesadaran akan Keesaan Tuhan berarti  meneguhkan bahwa kebenaran Tuhan Allah adalah satu dalam EsensiNya, dalam Nama-nama dan Sifat-Sifat-Nya, dan dalam perbuatam-Nya.
Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah bahwa orang harus menerima realitas objektif kesatuan alam semesta. Seagai sebuah sumber ilmu pengetahuan, agama Islam bersifat empatik ketika mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini saling berkaitan dalam jaringan kesatuan alam melalui hukum-hukum kosmis yang mengatur mereka. Kosmos teriri atas berbagai berbagai tingkat realitas, bukan hanya yang fisik. Tetapi ia membentuk suatu kesatuan karena ia mesti memanifestasikan ketunggalan sumber dan asal-usul metafisikanya yang dalam agama disebut Tuhan.
Semangat ilmiah para ilmuan dan sarjana muslim pada kenyataanya mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid. Tak diragukan bahwa, secara religius dan historis, asal-usul dan perkembanga semangat ilmiah dalam Islam berbeda dari asal usul dan perkembangan sains di Barat. Tak ada yang lebih baik dalam mengilustrasikan sumber religius semangat ilmiyah dalam Islam ini daripada fakta bahwa semangat ini pertama kali terlihat dalam ilmu-ilmu agama.
Orang-orang Islam mulai menaruh perhatian pada ilmu-ilmu alam secara serius pada abad ketiga Hijriyah atau abad ke sembilan masehi. Tetapi pada saat itu mereka telah memiliki sikap ilmiyah dan ketrangka berfikir ilmiyah, yang mereka warisi dari ilmu-ilmu agama. Semangat untuk mencari kebenaran dan objektifitas, penghormatan pada bukti empiris yang memiliki dasar yang kuat, dan pikiran yang terampil dalam pengklasifikasian merupakan sebagian ciri-ciri ilmuan muslim yang sangat luar biasa.
Kecintaan ummat muslim terlebih para ulama’dan ilmuan di zamanya pada definisi-definisi dan analitis konseptual atau semantik dengan penekanan yang besar pada kejelasan dan ketepatan logis, juga sangat nyata dalam pemikiran hukum seorang Muslim maupun dalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan studi atas berbagai aspek al-Qur’an, seperti limu tafsir. Dalam Islam, ilmu pengetahuan logika tak pernah dianggap berlawanan dengan keyakinan agama. Bahkan para ahli tata bahasa, yang pada awalnya menentang diperkenalkanya logika Aristoteles (Mantiq) oleh para filosof muslim seperti al-Farabi, bersikap demikian karena keyakinan bahwa logika-teologis-yuridis seperti Stoics, yang dikenal sebagai adab al-jadal atau seni berdebat sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan logika mereka.